Minggu, 12 Januari 2014

Ramadhan di Konoha Gakure


  Pagi ini tepatnya hari minggu, banyak burung-burung berkicau merdu di luar jendela. Orang-orang seperti biasa malas-malasan di hari ini, jarang yang melakukan aktifitas biasanya. Naruto, ya benar, dia adalah seorang anak lelaki berambut kuning jabrik bermata biru muda.

   Hari ini juga dia sedang malas-malasan karena kelelahan mengemban misi dari Hokage ke 5 Tsunade-sama, kemarin lusa Naruto, Sakura, dan Sai mengemban misi yang sama. 'Membantu' atau lebih tepatnya membersihkan Konoha-gakure. Dari mulai ruang akademi para calon Ninja, hingga ke 5 patung pahatan yang super besar di atas tebing Konoha-gakure.



   Setelah mengemban misi bersih-bersih, badan Naruto terasa letih sekali karena menggunakan jurus Kage bunshin no jutsu, hampir 200 kloning Naruto menyebar ke penjuru desa itu. Alhasil, tenaganya terkuras habis. Sekarang waktu menunjukan 07:30, matahari sudah tampak tinggi, pemuda berambut kuning itu masih asik memeluk guling angry birdnya. "Tok! Tok!" terdengar suara pintu rumahnya di ketuk oleh seseorang. Suara itu tidak di gubris oleh Naruto karena sedang asyik bermimpi. Dalam mimpinya tersebut, Naruto sedang bermain air dengan wanita, wanita itu sangat terkenal. Panggil saja dia Angelina Jolie. "Naruto-kun," panggil suara lembut seorang wanita yang sedari tadi mengetuk pintu dan berdiri di depannya selama setengah jam lebih. Wanita itu sangat cantik, berambut hitam panjang lurus, bermata putih, dan pastinya cantik. "Huh ugh," gumam Naruto yang tertidur pulas di hiasi air liur cirikhasnya. Sebenarnya dia lagi asik pacaran sama Angelina Jolie dalam mimpi. Kecipak-kecipuk suara air pantai yang di mainkan oleh Naruto menciprati Angelina Jolie, di dalam mimpi sepertinya Naruto sangat senang, bahkan sampai senyum-senyum sendiri di luar mimpi.

 "Krek," karena kesal kepada Naruto. Hinata mencoba membuka pintu rumahnya. "Dasar, masa rumah ga pernah di kunci," grutu Hinata sedikit kesal karena sedari tadi menunggu sekaligus senang bisa masuk ke rumah Naruto tanpa membangunkannya. Baru masuk ke dalam, banyak sekali sampah bekas makanan instan, contohnya cup ramen rasa bakso, kripik kentang hot hot dan lain-lain. "Dasar lelaki," kini wajah perempuan berparas cantik itu sedikit kecewa. Tapi, tidak bertahan lama, kini Hinata menuju dapur rumah Naruto untuk mengambil kantong kresek.

  Hinata adalah pacar Naruto, hubungan mereka berjalan lancar-lancar saja setahun ini. Banyak pristiwa yang amat mengesankan bahkan tidak terlupakan oleh Hinata, walaupun pacarnya sedikit menyebalkan, Hinata tetap cinta, menyayangi Naruto. 1 persatu sampah yang berserakan di pungut oleh Hinata, di masukannya ke dalam kantong kresek yang tadi. Dasar Naruto, pacarnya sedang membersihkan rumahnya yang kotor, dia malah mimpi berduaan sama cewe lain. Hari ini sangat penting bagi Hokage ke 5, tampaknya dia sedang sibuk memerintah Kakashi dan Guy mendekorasi aula desa untuk pengumuman kecil, banyak yang ikut andil, tidak mau kalah seperti Rock lee yang asik mengepel lantai aula dengan semangatnya, tidak sampai 15 menit, aula tersebut bersih mengkilat dan wangi.
   "Ada lagi yang saya bisa bantu??" tanya Lee yang masih bersemangat, saking semahatnya sampai-sampai terlihat animasi api berkobar dari mata Lee, matanya penuh berharap mendapatkan perintah lagi. Sebaliknya, Kakashi malah tidak ada semangatnya, dia hanya senyum-senyum melihat Lee begituh rajin.
   "Sekarang kamu bersihkan atap," baru mendengar itu, Lee langsung pergi lari ke atap membawa satu ember berisi air dan kain pel. Melihat semangat Lee, Tsunade-sama nyengir aneh dan bangga akan semangat anak muda Konoha-gakure.
   "Yeah, sekarang udah bersih semua, tinggal bangunin Naruto-kun saja," ujar Hinata tampak senang dan bahagia, senyumnya selalu terpancar, matanya berbinar-binar tidak sabar membangunkan Naruto. Di goyangkanlah tubuh Naruto secara perlahan-lahan, Naruto berbalik badan tidak mau di bangunkan. Di usapnya pipi Naruto oleh Hinata. "Slep," entah sengaja atau tidak tangan Naruto memegang tangan Hinata yang menempel di pipi Naruto, sontak saja muka Hinata berwarna merah merasa malu akan perlakuan Hinata, bibirnya seperti beku, bulu-bulu halus di tangannya berdiri. Hinata berharap agar waktu ini akan berhenti sejenak.
   "Angelina jolie. Huemmmh," baru saja Hinata merasa senang, kini berubah menjadi marah yang menjadi-jadi. Bagaimana tidak, Naruto mengigau nama perempuan cantik, tentunya bukan Hinata karena Naruto sedang asyi bermimpi pacaran dengan Angelina jolie. "Plak!!" sebuah tamparan amarah dari seorang gadis mendarat begitu cepat dan kencang. Akibat tamparan itu, kini pipi Naruto tercetak tangan Hinata. Mata Naruto langsung terjaga akibat tamparan Hinata.
   "Naruto-kun jahat! Huhu," ujar Hinata kecewa seraya menangis tersedu-sedu, air matanya terus mengalir ke pipinya, sesekali tersedak karena batuk. Hati gadis ini terbakar api cemburu, api yang sangat panas melebihi panas gunung bromo.
   "Apa salahku?" tanya Naruto terbangun dari mimpi, Hinata tak menjawab, dia terus menangis tak karuan.
   "Sayang kenapa kau menamparku? kenapa kau menangis?"
   "Jangan panggil aku dengan kata SAYANG, aku benci kamu!!"
   "Hey, kamu kenapa?" rayu Naruto menyeka air mata Hinata. Tidak mau di seka air mata Naruto, Hinata menutup wajahnya dengan kedua tangan, Naruto mencoba membuka tangan Hinata, tapi sia-sia, gadis berumur 18 tahun itu tetap menangis tersedu-sedu sambil duduk di lantai. Naruto mencoba menghiburnya dengan cara mengelus-elus punggung Hinata, bukannya terhibur Hinata malah menghardik Naruto sebagai playboy. Tamparan ke dua mendarat di pipi Naruto, lengkaplah sudah hiasan merah di pipi Naruto. Naruto tersungkur di lantai sambil memegang ke dua pipinya yang merah. Wajah Naruto kini menjadi benar-benar bingung, sedangkan Hinata makin marah.
   "Siapa Angelina jolie? Apakah dia lebih cantik dariku? Sehingga kau selingkuh dengannya? Apakah dia wanita spesial di hatimu?". Clep -clep bagai panah menusuk hati, tepat di ulu hati Naruto. Sakit tapi tidak ada luka fisik, hanya terasa sesak di dada membuat susah bernafas. Naruto kini teringat, bahwa tadi dia bermimpi pacaran sama Angelina Jolie. Ada apa ini? kenapa dia tahu tentang Angelina jolie.
   "Ko kamu tahu tentang Angelin jolie?" tanya Naruto sambil cengir-cengir tidak jelas. Sifat jahil Naruto mulai keluar, dalam hatinya kini Hinatalah korban utama, dia tidak pandang bulu kalau sedang jahil.
   "Tadi kau menyebut namanya saat mengigau!!" kata Hinata yang masih menangis tersedu-sedu. Dengan enteng Naruto mengatakan bahwa Angelina Jolie adalah pacar barunya, bahkan Naruto berani mengatakan Jolie sepuluh kali lebih cantik, sexy dan baik. Mendengar perkataan tersebut Hinata merasakan kepalanya pusing, jantungnya seperti tidak berdetak, nafasnya tersengal-sengal. "Bugh," wanita Cantik itu kini jatuh pingsan di lantai rumah Naruto. Naruto tidak menyangka kalau wanita yang sangat ia sayangi pingsan karena ulahnya, tak tahu berbuat apa, Naruto menggotong tubuh kekasihnya ke atas sofa merah di ruang tengah. Beberapakali Naruto mencaci-maki dirinya sendiri, kini dia menyesali perbuatan itu. Rambutnya di tarik-tarik sendiri, wajahnya di tampar bulak-balik.
   "Ya Tuhan, aku menyesal sekali. Sadarkanlah Hinata-kun sekarang, aku mohon." Naruto terus berharap agar kekasihnya cepat sadar.

   Kini aula desa sudah tertata rapih dan bersih, banyak hiasan-hiasan bergantungan di langit-langit. Terlihat ketupat mini berjejer rapi di samping spanduk besar bertuliskan "SELAMAT RAMADHAN 1434 H, Dan selamat menunaikan ibadah puasa!!" sang Hokage tersungging puas akan kinerja Lee yang begitu semangat menyambut Ramadhan tahun ini. "Bagus-bagus," kata pak ustad Jiraya yang tiba-tiba datang di belakang nona Tsunade. Mendengar pujian dari pak ustad, nona Tsunade merasa terhormat dan rada malu-malu. Setelah bercakap-cakap dengan ustad Jiraya, maka di putuskanlah besok warga Konoha-gakure akan menjalankan ibadah puasa. Shikamaru, dia adalah orang terpintar di Konoha-gakure, dan dia juga setuju besok akan menjalankan puasa.
   "Kalau perlu bukti, nanti coba saja lihat matahari. Hilal sudah bisa kita lihat pakai mata telanjang," ujar Shikamaru memberi penjelasan kepada Hokage ke 5. Mendengar perkataan orang terpintar di konoha, nona Tsunade makin percaya. Dengan terburu-buru Hokage memerintahkan kepada Kiba dan Chojie agar menyebarkan surat kepada warga Konoha-gakure untuk berkumpul di aula desa pukul 16:30. Tampaknya Kiba dan Chouji sangat senang karena tahu bahwa, bulan yang penuh berkah, limpahan pahala akan datang. Raut wajah Kiba begitu ceria, Chouji juga. "Hup-hup," 2 ninja itu melompat dari rumah 1 ke rumah lainnya menyebar undangan untuk warga biasa di udara, baru 1 jam penyebaran, hampir semua warga sudah dapat. Tinggal Naruto dan Sasuka saja yang belum, karena rumah mereka ada di ujung desa.
   "Hoi-hoi Naruto!" teriak Chouji di sertai raungan akamaru anjing milik Kiba. Kiba memang sudah biasa main ke rumah Naruto, dan tahu juga kebiasaannya tidak pernah mengunci pintu rumah. "Krek," pintu rumah Naruto di buka, sembari membuka pintu Kiba tertawa kecil menghadap Chouji yang asik ngemil kripik kentang. Kini raut muka Chouji berubah menjadi serius, dia berhenti memakan kripik kentang. Chouji menunjuk-nunjuk ke dalam rumah Naruto, melihat temannya bertingkah aneh, Kiba juga ikut menoleh ke dalam ruang Naruto.
   "Hei musang jelek, kau sedang apa?!!" teriak Kiba melihat Naruto sedang mencium tangan Hinata yang tertidur. Naruto mencoba menjelaskan kejadian barusang dengan terbata-bata, wajahnya juga masih aneh karena kaget kedatangan Kiba, Chouji dan akamaru anjing Kiba. Kiba yang mendengar penjelasan Naruto malah tidak percaya, kini dia mengolok-olok Naruto menuduh yang tidak-tidak. 'Pasrah', kata yang paling tepat menggambarkan perasaannya saat ini, dia tidak bisa berkata apa-apa. Matanya Kiba genit melihat Naruto yang pucat, Akamaru menggonggong tidak jelas, sedangkan Chouji masih asyik memakan kripik kentangnya.
   "Hei bau asem, kau mau ngapain kesini?" tanya Naruto sambil mengupil dengan jari kelingking. "Dasar anak musang, nih buat lu. Jangan sampe telat ya!" kata Kiba memberikan undangan yang ada cap Hokage.
   "Mangkanya, jangan main terlalu kasar bermain dengan Hinata, alhasil beginikan. Hahaha!" lanjut Kiba sedikit lari menjauh dari Naruto. Dalam hati Naruto terus menggrutu kesal di ejek terus oleh Kiba. "Na-ru-to kun," kata Hinata pelan setelah pingsan beberapa jam. Dia masih lemah, shock oleh perkataan Naruto . Mata Hinata masih sayup-sayup melihat sekeliling, beberapa kemudian dia ingat. Naruto telah mendua, padahal itu cuma gurauan Naruto saja, Hinata menganggapnya serius. Kepalanya berat, hatinya panas, matanya berkaca-kaca menahan tangis.
   "Di manana perempuan itu? Aku akan membunuhnya!!" bagai macan gunung yang bangun kelaparan, ingin sekali menerkam mangsanya, mencabik-cabik isi perut, lalu memakannya. Naruto sangat kaget, Hinata berdiri tegap setelah pingsan, byakugan sudah aktif, bahkan jutsu juho soshiken juga aktif, sepasang cakra biru berbentuk singa membalut tangan Hinata yang halus. Belum sempat berkata apa-apa, Naruto di seret Hinata keluar rumah Naruto. "Hatch!" suinggg Naruto terlempar jauh membentur bangunan 10 meter di depannya. Bangunan itu rusak parah, rasa sakit Hinata kini membutakan mata hatinya. "Srett, Hatch!" belum cukup sekali, Hinata mencengkram kerah baju Naruto, dia memukul Naruto kembali dengan juho soshiken. 2 pohon tumbang di tubruk Naruto akibat terkena pukulan Hinata. "Ughh," Naruto memuntahkan darah, matanya bengkak biru sebelah karena di pukul Hinata, bajunya compang-camping. Kini Naruto tepat berada di pinggir hutan Konoha-gakura. Pepohonan besar berumur ratusan tahun berjejer rapi dengan indahnya. Banyak pula burung-burung hutan berkicau bebas di sela-sela batang pepohonan. Sekali, duakali, Hinata belum puas menghajar Naruto, merasa cinta tulus yang di khianati kini rasa benci menjalar ke tubuhnya. Naruto menatap Hinata dengan senyuman yang tulus sambil mengusap-usap burung kecil berwarna biru, burung itu hinggap di tangan Naruto.
   "Hajarlah aku, aku tidak akan marah kepadamu apalagi benci. Sungguh aku mencintaimu," kata Naruto sambil tersenyum. Mendengar perkataan dari Naruto, Hinata makin menjadi-jadi. Dia menganggap Naruto playboy yang suka merayu. Satu pukulan telak mendarat ke perut Naruto, Naruto terpelanting menabrak pohon raksasa.
   "Aku tidak akan melawan ataupun menangkis serangan mu kasih," kata Naruto sambil memuntahkan darah. "Suswh... Swush..." cakra Hinta berkumpul ke tangan kanannya. Tangan Hinata di selimuti bayangan singa biru sebesar 1 meter darinya. Berjalan pelan, berlari kecil, sampai berlari kencang menuju Naruto yang tak berdaya. "Sluphh," semua cakra yang terkumpul lenyap sekarang. Pukulan yang bisa membunuh seseorang kini berubah menjadi dekapan rasa bersalah. Hinata memeluk Naruto, orang yang paling di cintainya, pelukannya erat, hampir-hampi saja Naruto tidak bisa bernafas. Sembari memeluk Naruto, Hinata menangis tersedu-sedu, Naruto hanya mengusap rambut Hinata yang hitam juga panjang. Tupay yang berada di pepohonan menjadi saksi cinta buta. Kemarahan bisa membuat orang lupa diri sampai-sampai menjadi orang lain. Orkestra jangkrik melai berbunyi setelah amukan Hinata, pinggiran Hutan itu mulai ramai kembali.

   "Hisaaa... Hetesa... Hisaaa... Hatesa..." suara melody kematian berbunyi menandakan kelompok pembunuh berdarah dingin datang. Awan kegelapan ikut serta mendampingi setiap langkah mereka. Binatang-binatang, serangga enggan melihat, apalagi berada di samping mereka. Hanya ada hawa pembunuh menghiasi perjalanan tersebuat, mereka berjalan pelan namun pasti. 'Konoha-gakure' menjadi tempat tujuan mereka. Kelompok itu berjumlah 10 orang, mereka mengenakan jubah hitam dengan motif awan merah terang.
   "Hey pain! Apakah perbuatan mu ini benar!" teriak Hidan yang tidak senang. Pain hanya menatap Hidan dengan mata Rinnegannya, seketika Hidan diam langsung patuh, dia tidak mau membuat pemimpinnya marah. Mau atau tidak, mereka semua berjalan ke Konoha-gakure.
 "Hey apakah kalian sudah menyebarkan undangan?" tanya Nona Tsunade dengan sinis, alis matanya terangkak, bibirnya ketus seakan tidak percaya mereka bisa secepat itu menyebarkan undangan. Kiba dan Chouji hanya nyengir, mengacungkan jempol dengan mantap. Melihat gayanya di tiru, Lee langsung menendang mereka, terjadilah perkelahian kecil di aula Konoha-gakure. "Lagi-lagi," grutu Kakashi menyimpan buku novelnya di tas Ninja. Baru saja Kakashi mau melerai, nona Tsunade si Hokage ke-5 sudah berteriak dengan amat kencang, membuat daun telinga mengkerut, menyuruh mereka untuk berhenti berkelahi. Kiba, Chouji dan Lee mematung takut berdiri berjejer di depan aula. "Pletak! Pletak! Pletak!" masing-masing dari mereka kini mendapat hadiah dari nona Tsunade sebuah jitakan di kepala. Hanya Kiba yang merasakan sakit, Lee menganggapnya sebagai latihan, sedangkan Choiji hanya bersikap santai.

   "Maafkan aku Naruto-kun," itu adalah kata-kata yang selalu di ucapkan oleh Hinata saat menuju rumah Naruto. Naruto sekarang di papah oleh Hinata, matanya membengkak, wajahnya tidak karuan, serta kakinya terkilir. Jelas saja Naruto memaafkannya, karena Hinata adalah kekasih yang amat di Cintai Naruto. Hinata selalu menyumpahi dirinya karena telah melukai Naruto, dia sangat menyesal, seharusnya dia menjaga, bukan melukai.
   "Sudahlah Hinata, jangan kau bersedih. Aku rela mati untukmu, nyawa ini hanya untukmu seorang." mata Hinata berkaca-kaca, derai air mata tumpah tidak kuasa menahannya, Hinata mendekap tubuh Naruto dengan kencang.
   "A-aku berjanji, ini akan menjadi te-terakhir kalinya aku me-menyakitimu." dengan terbata-bata Hinata mengucapkannya, ucapan yang amat tulus dari hatinya paling dalam. Naruto hanya bisa tersenyum dan mendekap tubuh gadis kesayangannya.

    Pukul 16:30 waktu Konoha-gakure, aula yang sudah bersih kini ramai oleh penduduk Konoha, dari bapak-bapak, ibu-ibu, sampai semua Ninja Konoha ada di sana. Mereka saling lempar pertanyaan karena perihal kenapa mereka semua berkumpul di sini. Si A tanya ke B, B tanya ke C dan seterusnya. Suasana sudah semakin ramai, panas dan sesak. Atsmosfer aula semakin menjadi-jadi. Ini saatnya bagi Hokage ke-5 untuk tampil menerangkan kenapa mereka berada di sini. "Ehem!!!" sang Hokage berpura-pura batuk, suaranya lumayan kencang. Sontak saja warga yang berada di sana langsung terfokus pada asal suara batuk itu. Jubah putih, bermotif api merah di bawahnya, mengenakan caping putih-merah yang dominan putih, di caping tersebut bertuliskan kanji yang ber-arti 'HOKAGE', semua warga diam, mereka mematung melihat Hokage berdiri di mimbar aula.

    Masih dengan wajah bersalah, Hinata mengobati luka-luka Naruto, perban dimana-mana. Melihat Hinata murung, Naruto mencium kening Hinata. Waktu terasa berhenti, jantung mereka berdebar-debar. Naruto memandang Hinata dalam-dalam, dia hendang mencium bibir Hinata, Hinata menelan ludah, dia belum siap.
   "Hey Naruto-kun, itu selembaran apa?" tanya Hinata mengalihkan suasana. Naruto langsung mengingat akan ada acara di aula, itu adalah undangan resmi dari Hokage ke-5, terlihat dari undangannya memang tertanda cap khusus Hokage. Wajah Naruto pucat pasih, dia tidak berani menengok ke arah jam. Hinata mengambil selembaran itu, betapa bodohnya kekasihnya, pikir Hinata. Karena melupakan sesuatu yang amat penting. "Kyaaa!!" Naruto teriak Histeris karena sudah pukul 16:30. Rumahnya gaduh, Naruto seperti orang kebingungan. Ya, dia memang sedang bingung, memilih baju, menggosok gigi, menyisir rambut, memakai parfum. Waktu terus berjalan.
   "Mangkanya jangan cepat lupa, masih muda ko pikun mulu. Hihihi," Hinata dengan sigap memakaikan dasi ke Naruto, dasi kupu-kupu hitam polos. Naruto hanya tertawa menanggapi perkataan Hinata.
   "Yosh!! aku berangkat," kata Naruto hendak pergi meninggalkan rumahnya. Hinata menahan Naruto, tentu saja Naruto sedikit kesal, karena waktu terus berjalan, ada undangan penting dari Hokage. "Cuph," 1 kecupan manis dari Hinata ke pipi Naruto, wajah yang kesal berubah menjadi senang.
   "Sekarang kau baru boleh berangkat, hehe" lanjut Hinata melepas cengkramannya. Sambil tersenyum Naruto bergegas pergi ke aula Konoha-gakure.

    "...Saya selaku Hokage ke-5 mewakili semua yang ada di sini untuk meminta maaf kepada kalian jika mempunyai salah yang di sengaja atau tidak. Selamat menjalankan ibadah puasa, besok kita akan berpuasa selama 1 bulan full. Selamat Ramadhan 1434 H, mohon maaf lahir dan batin." tutup pidato nona Tsunade. Saat itu juga Naruto datang dengan nafas yang tersengal-sengal. Plontar-plontar hiasan di tembakan seiring spanduk besar di dalam aula bertuliskan 'Selamat Ramadhan 1434 H', semoga menjadi bulan yang penuh berkah' dan ada juga gambar janur beserta 3 buah ketupat hijau.

    Naruto yang baru datang hanya bisa tersenyum kepada Sakura, Sai, guru Kakasi dan lain-lain. Mereka semua menaikan alis, bahkan 1 atau 2 dari mereka mengeluarkan urat kemarahannya. Sekali lagi, cengir Naruto membuat cair suasana.
   "Dasar bocah nakal," kata nona Tsunade sembari menghela nafas. Sorak sorai semakin ramai saja, mereka semua berniat mengadakan pesta setelah shalat tarawih sebagai penutupan.

   "Hetsaa...Hatesaa...Hestsaa..Hatesaa" alunan melody kematian menyeruak memasuki aula Konoha-gakure. Semua wajah tegang. Terelebih lagi Naruto yang sudah bersiap-siap sage mode. Semua ninja siap dengan kunai, peluh bercucuran menetes ke bawah lantai. "Sudah kubilang, mereka pasti akan begini!!" keluh Hidan menunjuk wajah Pain. Pain yang kesal karena Hidan terus mengeluh akhirnya menggunakan Rinne-tensei. Hidan jatuh mencium lantai aula. Lantai aula itu langsung membentuk kawah, melihat itu semua, Naruto berlari secepat kilat berdiri berhadapan dengan semua anggota akatsuki. Naruto sudah berubah menjadi sage mode, mata katak, di lengkapi jubah merah seperti jubah Hokage.
   "Tenang Naruto, kami kesini untuk meminta maaf," jelas Pain ketua akatsuki mengangkat kedua tangannya. Naruto belum percaya, dia masih tetap waspada, warga konoha berhamburan keluar aula melihat kedatangan akatsuki. "Jreng...Jreng...Jreng," mereka memakai kopiah dan kerudung, pikir Naruto. Seakan tidak percaya semua anggota akatsuki memakai kopiah kecuali Konan memakai kerudung, karena dia adalah wanita satu-satunya wanita anggota akatsuki.
   "Jangan bercanda kau!!" teriak Naruto sembari memegang rasengan di tangan kanannya. Wushh, Naruto melaju membelah angin. Rasengannya tepat mengenai dada Pain, ketua akatsuki. Pain sedikit memuntahkan darah, sekarang dinding aula Konoha-gakure menjadi Hancur karena ulah Naruto. Konan yang melihat Pain terluka menarik mundur pasukan akatsuki.
   "Kami sudah meminta maaf dengan tulus, aku harap kalian memaafkan kami. Karena kami kemarin lusa bersama-sama melakukan tobat NASUHA." kata Konan sebelum hilang menggunakan teleportasi. Naruto dan kawan-kawan masih belum bisa menerima kesalahan, kesalahan dari setiap anggota akatsuki yang membunuh begitu banyak manusia tak berdosa. Anak-anak kecil yang tak tau apa-apa juga di bantai oleh mereka dengan bengis.
   "Tap...tap...tap!" semua ninja yang ada di dalam aula berdatangan mendekati Naruto, mereka masih siap dengan senjatanya masing-masing, berjaga-jaga jika akatsuki datang menyerang.
   "Siaga 3, chunin berjaga di gerbang utama, dan di menara-menara. Anbu berjaga di dalam desa, gennin mengevakuasi warga, warga-warga harus di ungsikan ke dalam tebing. Semuanya berpencar!!" teriak Hokage ke-5, semuanya pergi, kecuali Naruto yang di tahan nona Tsunade. Nona Tsunade tidak mau mengambil resiko terlalu tinggi karena Naruto seorang jinchuriki ekor 9. Dia tidak mau kekuatan Naruto sampai di rebut oleh akatsuki.
   "Naruto kau tetap bersamaku, guy, kakashi, sakura dan Hinata." kata Hokage ke-5 menggenggam tangannya. Walaupun kesal, mau tidak mau harus di patuhi oleh Naruto. Naruto hanya bisa menggigit bibirnya ketika semua teman-temannya menjaga desa. Naruto paham betul, jika kekuatannya di ambil oleh akatsuki, dunia shinobi akan jatuh ke tangan mereka.

   Awal ramadhan kali ini sangat berbeda dari ramadhan-ramadhan sebelumnya. Kini anggota yang di pilih oleh Hokage ke-5 sudah sampai ke dalam tebing-tebing Konoha-gakure. Kecuali Hinata yang datang belakangan karena telat mendapatkan informasi. Hinata mendekap tubuh Naruto ketika datang, ia sangat mengkhawatirkan kekasih yang amat di cintainya. Di kelompok akatsuki masih ramai karena usul Pain sang ketua untuk tobat. Satu persatu dari mereka terdiam ketika di ajak duel oleh Pain, kecuali Konan yang ingin benar-benar tobat. Atsmosfer anggota akatsuki mulai mereda. Mereka membaca kalimat istigfar berulang-ulang kali agar hati mereka tentram. Malam menjelang, anggota akatsuki berada di gua dekat desa Konoha-gakure, niatnya mereka ingin bermalam dulu di sana. Itachi membuat api unggun dengan ameterasu, api hitam abadi. Konan menyiapkan makanan hasil tangkapan Kisame, banyak ikan-ikan segar yang siap untuk di olah menjadi hidangan lezat. Berjam-jam sudah kejadian setelah munculnya anggota akatsuki. Saking tegangnya mereka, nona Tsunade, Naruto yang lain-lain sampai lupa menjalankan shalat isya berjamaah di lanjutkan shalat tarawih. Karena tidak ada air, mereka tayamum menggunakan debu-debu halus. Kakashipun komat setelah memakai kopiah, mereka shalat dengan alas seadanya. Ustad Solmed menjadi imam, tanpa bi-ba-bo, urtad Solmed langsung takbir. Semua jama'ah yang berada di tebing untuk mengungsi ikut melakukan takbir. Naruto dan lelaki lainnya sholat di barisan depan, sedangkan Hinata dan perempuan sholat di barisan belakang. Mereka sangat khusyuk menjalankan ibadah sholat isya.
  "Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," pak ustad Solmed mengucapkan salam ke kanan sembari duduk atahiad akhir. Setelah itu pak ustad Solmed juga mengucapkan salam ke arah kiri. Selesailah mereka shalat isya. Seperti biasa menjelang shalat tarawih, pak ustad Solmed ceramah sepatah-dua patah kalimat. Dalam ceramahnya tersebut dia membahas tentang minta maaf dan memaafkan, walaupun hati merasa enggan untuk memaafkan orang-orang yang paling di benci.
   "Pak ustad, tapi kalau misalkan pembunuh yang minta maaf bagaimana?" tanya Naruto sambil benerin kopiahnya yang melorot.
   "Harus di maakan nak, jika dia bersungguh-sungguh minta maaf, Allah swt saja memaafkan hambanya yang berbuat salah. Masa kita tidak," tajam seperti silet, tertusuk anak panah tepat di hati. Semua terdiam, merenung kesalahan yang di perbuat, intropeksi diri. Beberapa dari mereka bahkan ada yang menangis. Melihat itu semua, pak ustad Solmed menutup ceramagnya dilanjutkan dengan shalat tarawih, wittir. Pagi suasana begitu sepi, belum ada yang terbangun di tebing Konoha-gakure kecuali Hinata, dia sudah bangun dari pukul 01:00 pagi, dengan perlahan membangunkan ibu-ibu yang lain unuk memasak bahan makanam untuk sahur beramai-ramai, walaupun dalam keadaan waspada, sahur di bulan puasa menjadi wajib. Jika mereka tidak makan, maka tidak mempunyai energi yang cukup. Hinata sangat telaten memasak, sedangkan sakura hanya bisa memotong bahan makanan saja. Dia tidak bisa memasak, banyak tawa riang terpancarkan oleh ibu-ibu saat masakan Hinata sedikit asin. Ibu-ibu menyeletuk kalau Hinata mau menikah, sontak saja wajah Hinata memerah, jantungnya berdetak 2 kali lebih cepat karena gugup. Sakura yang melihat Hinata seperti itu makin menjadi-jadi.
   "Hinata! Naruto ke sini," teriak Sakura. Sakura hanya berbohong mengerjai Hinata, Hinata malah menjadi semakin grogi, al hasil lada putih masuk semua ke dalam sop kentang dan wortel. Berkali-kali Hinata menundukan badan seraya minta maaf.
   "Naruto-kun, bangun, ayo kita sahur." dengan lembut Hinata membangunkan kekasihnya yang tertidur pulas, di belai pipi Naruto tetapi tak kunjung bangun. "Brrr," Naruto menggigil kedinginan ketika di siram Hinata dengan air ember yang terisi penuh. Kesabaran Hinata habis, 1 jam dia membelai Naruto, tapi tidak bangun-bangun juga. Mereka semua makan, beberapa orang makan sambil tertawa, bercanda. Beda dengan Naruto, Hinata, mereka lebih banyak diam karena Hinata kesal. Lari jingga ufuk sana mulai terbit, cahayanya yang syahdu mulai menerangi desa ini, desa dimana Naruto di lahirkan dan di besarkan. Seperti biasa, nyanyian burung memenuhi pagi yang indah ini, beberapa orang penjaga tiang mulai terjatuh karena ngantuk. Penjaga 1 tidur, penjaga 2 bangun, dan begitu seterusnya sampai ada peritah lanjutan dari Hokage ke-5 pemimpin desa. 2 hari sudah setelah kejadian itu berlangsung, Hokage mulai mengendurkan penjagaan, dia tahu kalau mereka sedang berpuasa.

   4 hari setelah kejadian kemunculan akatsuki, aktivitas penduduk desa Konoha mulai meranjak normal, seperti biasanya damai, tentram dan pastinya indah. Di bulan puasa ini, Naruto jarang bertemu Hinata, dia harus menahan hawa nafsu. Bukan hanya makan dan minum, di bulan yang penuh berkah ini, kita harus bisa menahan amarah, penuh kesabaran tidak lupa slalu menjalankan perintah-NYA serta menjauhi semua larangan-NYA. Puasa kali cukup menyenangkan, apalagi Naruto yang mukanya berseri-seri menatap ramen telor ikan kesukaannya. Wajahnya sangat ceria, dengan cepat membaca do'a berbuka puasa, maghrib telah tiba muazin Bima arsa seorang anak lelaki mengumandangkan adzan dengan suara lantang.

   Sudah 2 minggu lamanya Naruto tidak mampir di kedai ramen bapak Ichiraku. Ramen di kedai itu adalah ramen terlezat se-Konoha, tiap helai ramen di nikmati oleh Naruto, dia merasa terlahir kembali setelah menyantap ramen.
  "Terimakasih makanannya!" kata Naruto seraya pergi, tak lupa dia membayar ramen tersebut. Seperti biasa paman Ichiraku menyuruhnya datang lagi berkunjung, Naruto hanya nyengir melambaikan tangan. "Ka, aku lapar, huhu," kata seorang anak berambut merah.
   "Aku juga lapar kak," sambung anak yang lebih kecil berambut coklat. Kakaknya hanya bisa tersenyum, menatap sedih karena tidak bisa memberikan makan adik-adiknya. Mereka adalah anak yatim piatu, ibu-bapak mereka terbunuh saat mengemban misi desa. Tubuhnya kurus kering seperti busung lapar, matanya melototot. Hari ini mereka beruntung sekali bertemu dengan Naruto. "Apa yang kalian lakukan disini?" tanya Naruto mengelus rambut anak yang paling tinggi. Sejenak Naruto terdiam menatap anak-anak yang kurus kering. Naruto tahu anak itu kelaparan.
   "Ayo ikut paman," ujar Naruto membimbing ke tiga anak-anak itu menuju kedai ramen kesayangannya. Dia memesang 3 mangkuk ramen berukuran besar. Pertama-tama, ke-3 anak itu terdiam menatap ramen yang mengepul dengan asap + wangi khas ramen. Anak pertama menoleh, anak kedua juga menoleh, anak terakhir langsung makan lagi. Naruto sedikit tertawa, mereka semua tampak senang. Dengan lahap, mereka menghabiskan ramen sampai tetesan kuah terakhir. Ke-3 anak kecil itu kini tidak kelaparan.
   "Terimakasih panan Ichiraku," ujar Naruto seraya memberikan uang untuk ramen. Anak-anak itu masih berdiam diri disebelah kedai Ichiraku, Naruto tersenyum menoleh ke-3 anak itu sembari mengajaknya ikut ke rumah Naruto. Mata mereka membulat, berkaca-kaca, wajah mereka tampak sangat gembira. Anak terakhi di gendong oleh Naruto, sedangkan 2 yang lainnya berjalan sejajar kiri dan kanan Naruto. "Ayo masuk," ajak Naruto di ambang pintu rumahnya. Pertama mereka sedikit malu, sambil tersenyum Naruto memegang tangan-tangan kecil itu, tampak halus, masih polos, belum tersentuh oleh dunia yang kasar. Walaupun sedikit berantakan, ke-3 anak kecil itu tampak sangat senang. Beberapa jam bermain dengan Naruto, tiga anak itu tertidur pulas di atas kasur. Wajah mereka tampak manis saat tertidur, nyanyian burung hantu menjadi melody tidur mereka.

   "Tok-tok-tok!" pintu Naruto di ketuk, hampir ke dobrak saking kerasnya pukulan tersebut. Dalam hati, Naruto bertanya-tanya siapa tamu yang datang malam-malam begini. Sambil berlari kecil Naruto menuju pintu langsung membukanya. Ternyata Neiji, sepupu Hinata, sekaligus sahabat Naruto. Dengan terbata-bata dia menceritakan kronologisnya. Alis Naruto terangkat, wajahnya kaget. Naruto berlari kedalam, mengambil jaket dan perlengkapan ninja. Anak kecil yang berada di rumahnya belum terbangun, mereka di tinggal Naruto.
   "Nenek Tsunade, apa yang terjadi pada Hinata-kun?!" tanya Naruto, matanya melotot, mencengkram tangan Hokage ke-5. "Hinata terkena virus baru, wajahnya pucat. Dalam 2 hari jika tidak menemukan penawarnya, aku tidak bisa menolong dia." wajah Naruto juga menjadi pucat, fikirannya gelap, matanya panas ingin sekali menumpahkan isinya.
  "Tapi," lanjut nona Tsunade. "Tapi apa?" nona Tsunade sedikit terdiam.
  "Tapi Hinata bisa di sembuhkan dengan bunga Azalia Healty, bunga tersebut ada di lembah Rurukuta, hanya berjarak 5 km dari desa Konoha, warna bunga tersebut ungu muda, seikit warna merah di mahkotanya," tutur nona Tsunade. Naruto yang mendengar penjelasan Hokage ke-5 langsung pergi keluar rumah sakit, dia menggunakan biju mode. Kini seluruh tubuhnya di lapisi cakra emas kyubi. Matanya berubah menjadi mata musang berwarna merah. "Swushh!" 1 lompatan Naruto, mencapai 100 meter. Dalam hati Naruto berjanji akan menemukan bunga itu. Benar saja, tidak sampai 1 jam, Naruto sudah kembali ke rumah sakit dengan membawa puluhan bunga pesanan Nona Tsunade, tanpa membuang waktu, hokage ke-5 meracik bunga tersebut untuk di jadikan penawar.

   Beribu-ribu pertanyaan menjalar ke fikiran Naruto, apakah Hinata bisa selamat? Apakah dia koma? Dan apakah. Naruto terdiam, merenung, mengenang masa-masa indah bersama kekasihnya. Isak tangis menggema di koridor rumah sakit, walaupun tidak terlalu kencang. Rasa pilu yang amat sangat bisa di rasakan oleh Neiji yang sedari tadi duduk di samping Naruto untuk menenangkannya.
   "Dia akan baik-baik saja, dia gadis yang kuat Naruto-san," ujar Neiji seraya menepuk pundak sahabatnya yang sedang menangis. Neiji juga cemas dengan keadaan Hinata. Wajahnya melamun tak jelas menatap langit-langit.
   "Faksin sudah di suntikan, dia akan baik-baik saja." dalam keadaan hening nona Tsunade datang membawa gembira, Naruto dan Neiji menundukan kepala bersamaan sembari mengucapkan terimakasih berulang kali. Mendapat perlakuan tersebut nona Tsunade hanya tersenyum dan berpesan agar jangan masuk kamar dahulu. Karena faksin baru bekerja setelah 2 jam. Naruto dan Neiji mengangguk mantap, mereka mengerti apa maksud dari dokter terhebat Konoha sekaligus menjadi Hokage ke-5. Pagi menjelang, Naruto terhuyung-huyung masuk kedalam kamar rawat Hinata. Terlihat gadis cantik menatap keluar jendela, di terpa sinar matahari pagi, wajah Hinata makin cantik, walaupun wajahnya sedikit pucat. Naruto senang melihat kekasihnya sudah bisa duduk manis di atas kasur rumah sakit.
   "Hinata-kun," Hinata menoleh ke arah panggilan, dia melihat Naruto berjalan pelan menghampirinya.
   "Jangan kau sakit lagi, aku sangat sedih sekali saat kau koma semalam," tutur Naruto, wajahnya tertunduk memegang tangan Hinata yang di suntik selang infus. Hinata mengangkat dagu Naruto dengan tangan kanannya, membelai pipi Naruto.
   "Aku tidak apa-apa Naruto-kun," Naruto tidak bisa berkata apa-apa. Dia memeluk Hinata, mendekapnya dengan lembut. Naruto tidak mau kehilangan orang yang paling di cintainya. Ramadhan ini begitu banyak cobaan yang menerjang, begitu Hinata sehat, Naruto mengadakan syukuran. Para anak yatim, ibu-ibu janda menjadi tamu spesial Naruto dan Hinata. Pagi menjelang, Naruto terhuyung-huyung masuk kedalam kamar rawat Hinata. Terlihat gadis cantik menatap keluar jendela, di terpa sinar matahari pagi, wajah Hinata makin cantik, walaupun wajahnya sedikit pucat. Naruto senang melihat kekasihnya sudah bisa duduk manis di atas kasur rumah sakit.
   Dan tidak lupa para nenek-kakek jompo yang usianya tidak muda lagi juga datang. Rumah Naruto begitu ramai. Satu dua dari mereka bercanda, dari tawa riang, berebut makanan sampai menangis. Naruto kelagapan menangani anak yang menangis, wajahnya bingung tak tahu harus berbuat apa. Hinata hanya cekikikan menatap kekasihnya berusaha menenangkan anak yang nenangis.
   "Yang bercanda, berisik dan nangis ga dapeu eskrim," teriak Naruto sambil nyengir ke Hinata. Suasana diam, anak-anak bandel itu patuh oleh perkataan Naruto. Masuk kuping kanan keluar lewat mulut, suasana kembali ricuh saat adzan maghrib tiba. Perebutan makanan, dan siapa yang makan terbanyak menjadi topik utama pada hari ini. Nenek-kakek jompo juga ikut tersenyum melihat anak-anak yang polos, mereka ingat masa muda, dimana dunia seperti milik sendiri. Suasana mulai tidak terkontrol, Hinata mengambil alih, 1 kedipan, 2 kedipan. Mata Hinata berkedip kemana-mana, para anak bandel itu seperti tersihir mematuhi gerak mata Hinata yang cantik. Naruto terbengong, bertanya-tanya kedalam hatinya, bagaimana bisa hanya dengan sebuah kedipan. Naruto menoleh ke Hinata, menatapnya dengan perasaan aneh, Hinata hanya tersenyum. Sehabis buka bersama, anak-anak yatim, janda, orang tua yang tidak mampu mencari uang di berikan mie sekardus + uang tunai. Walaupun tidak banyak, tamu-tamu istimewa Naruto tampak senang, mereka berpamitan, tak lupa sebelum berpamitan mereka mendo'akan Naruto dan Hinata, banyak juga dari mereka menanyakan tentang pernikahan. Naruto hanya tersenyum menahan malu. Acara selesai, rumah Naruto berantakan, sisa makanan, jejak kali dan sebagainya membuat anak berambut kuning itu sedikit kesal. "Chup," dari belakang Naruto di peluk oleh Hinata, kemudian mencium pipi Naruto. Perasaan kesal, jengkel hilang terbawa angin. Kini Naruto cuma menikmati masa-masa indah mereka.

   Tak terasa, sudah sampai ke hari 29 saja, malam ini sangat spesial. Banyak yang menyerukan suara takbir, di surau, mushola, masjid. Semua ramai, bunyi beduk menjadi pengiring takbir. Dari atas bangunan yang cukup tinggi, Naruto dan Hinata berduaan menatap desa mereka yang amat indah. Lampu-lampu pertokoan seperti kunang-kunang, bangunan-bangunan besar tampak begitu menawan memainkan kilau cahaya. "Duar!! Duar...!!" petasan kembang api di luncurkan oleh seseorang. Merah, kuning, hijau, itu warna yang di buat oleh kembang api yang menawan. Pesta kembang api di mulai, langit desa Konoha-gakure penuh dengan kembang api. Hinata dan Naruto hanya menatap saja, menikmati pemandangan ini. Hinata bersandar pada bahu Naruto yang gagah, tangannya memegang tangan Naruto. "I love you Naruto-kun," malam ini sungguh spesial bagi mereka berdua.

   "Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar, laailaahaillAllah huawlohuakbar, Allahuakbar walilah ilham." seru takbir terus berkumandang di sebuah lapangan besar. Jama'ah dari Konoha-gakure lumayan banyak, beratus-ratus orang berkumpul di sana untuk menuju kemenangan. Sebulan penuh mereka menahan haus, lapar, hawa nafsu sesudah imsak sampai adzan maghrib berkumandang. Mungkin Naruto dan Hinata yang sedikit gagal menahan hawa nafsu, kadang-kadang mereka berdua saat menjalankan ibadah puasa. Buat temen-temen jangan di contoh. Naruto tampak rapih dan juga lebih tampan, dia mengenakan baju koko putih, celana hitam, dan menggunakan kopiah hitam. Waktu sudah tiba, saatnya shalat idulfitri berjamaah. Yang menjadi imam sekarang adalah Ustad Jefri al buqhori. Di mulai dengan 7 takbir dan di akhiri dengan salam. Kemudian sang imam bangkit ke atas mimbar untuk memberikan khotbah seperti biasa sesudah sholat idul fitri. Naruto berjalan pelan, bersalam-salaman dengan teman-temannya, matanya berkaca-kaca saat bersalaman dengan teman-temannya, nuansa hari kemenangan sangat kental. Orang-orang berjalan beriringan saling bersalaman.
   "Naruto-kun, maafkan aku," ujar Hinata mencium tangan Naruto, Naruto juga meminta maaf kepada Hinata, sejenak mereka berpelukan. Ramadhan tahun ini penuh berkah, banyak kejadian yang tak terlupakan di Konoha-gakure.

END

NB: Maaf ya kalo bosan atau apalah, saya juga masih belajar. Harap dimaklmi ^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar